Respons Ketua IDAI Usai Debat dengan Irma NasDem: Santai Ha ha ha




Anggota Komisi IX DPR fraksi NasDem Irma Suryani Chaniago geram dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso.
Kegeraman itu karena Irma merasa dipotong saat masih bicara dalam rapat membahas kasus gagal ginjal akut di DPR pada hari ini, Rabu (2/11). Walhasil dalam rapat tersebut, Irma pun menyemprot langsung Piprim.

Mulanya, Ketua Umum IDAI Piprim Basarah menjelaskan bahwa gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA) berpotensi besar disebabkan oleh intoksikasi atau keracunan dalam cemaran senyawa dalam sejumlah obat sirop.


"Berdasarkan teman-teman di RSCM, bahwa bukti karena intoksikasi memang kuat, satu. Kedua, bukti epidemiologis, begitu Kemenkes menyetop sirop, itu kasusnya menurun drastis," kata Piprim dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX, Rabu (2/11).

Bukti lainnya yakni pasien yang menerima obat antidotum Fomepizole jadi membaik kondisinya. Fomepizole merupakan injeksi penawar racun yang umumnya disebabkan kandungan etilen glikol (EG).
 
Irma Suryani yang juga hadir dalam rapat iu lalu meminta Piprim untuk tidak gampang menyimpulkan penyebab penyakit gagal ginjal akut.

"Interupsi. Pak pimpinan [Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris], sedikit. Sorry pak [Piprim] sampeyan ini aneh ngomongnya. Tahu enggak aneh?" tanya Irma.

"Enggak," potong Piprim.

"Sudah dibilang dari 197 itu, ada 67 yang tidak [mengonsumsi obat sirop] mengandung EG. Apakah dari semua korban itu ditemukan memang minum sirop yang mengandung itu? Jadi jangan sekali-kali ngomong bahwa seolah-olah karena itu. Karena uji klinisnya belum jelas," kata Irma.

"Boleh saya jawab tidak," respons Piprim.

Irma langsung merespons jawaban Piprim itu.

"Ya, jadi itu harus juga menjadi dasar Anda harus mengatakan A,B,C,D,E,F,G. Makanya saya bilang tadi antara Kemenkes dan BPOM ini tidak sinkron," kata Irma.

"Kalau tadi Anda bilang karena semua sirop ditarik kemudian menurun, itu artinya memang kandungan itu yang membuat masalah ini, kan begitu. Tapi tadi kan sampean juga bilang ada yang minum obat itu ginjalnya kena, tapi ada yang tidak minum pun katanya kena. Artinya itu belum sahih gitu lho," imbuh anggota DPR dari Dapil Sumatera Selatan II itu.

"Sudah selesai?" timpal Piprim.

Lihat Juga :

Menkes Jawab Komunikasi Buruk dengan BPOM: Saya Sih Ngerasa Baik Saja
"Pak, pak tidak usah dijawab, biar saja dulu, Pak," sela Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris selaku pimpinan rapat mencoba menengahi.

"Belum. Saya belum selesai. Memang kenapa kalau saya belum selesai?" kata Irma sesaat kemudian.

"Ya saya enggak ngomong," sahut Piprim.

"Ya sudah diam dulu," balas Irma.

"Mohon maaf, ini bukan tempat debat kusir, mohon diizinkan selesai dulu, nanti bapak ada waktu menjawab," kata Charles kembali menengahi.

"Iya, jangan kamu saya lagi ngomong kamu bilang udah udah udah. Memang kamu siapa? Saya lagi ngomong malah bilang 'udah selesai, udah selesai'. Kurang ajar. Tidak boleh gitu juga kali, tidak sopan," ujar Irma.

Mengutip dari detik.com, usai rapat, Piprimmerespons santai soal kejadian dengan Irma. Dia mengatakan celetukan itu hanya spontanitas.

"Itu respons spontan aja karena aku kan orangnya iseng kan," ujar dr Piprim seraya tertawa saat ditemui usai rapat yang juga dihadiri Menkes Budi Gunadi Sadikin hingga Kepala BPOM Penny Lukito.

Dokter Piprim mengaku tidak ada masalah dengan Irma. Dia tak ambil pusing soal kejadian itu.

"Santai, ha-ha-ha..., iya, iya santai," lanjutnya.
 
Irma sebelumnya juga telah menyentil Kemenkes dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait buruknya pola komunikasi yang buruk.

Irma mencontohkan ketika Kemenkes seolah menyimpulkan cemaran senyawa kimia yang ditemukan dalam sejumlah obat sirop menjadi penyebab gangguan ginjal akut.

Sementara BPOM mengatakan berdasarkan hasil uji cemaran EG dalam obat belum dapat mendukung kesimpulan ihwal penyebab gangguan ginjal akut.

BPOM menganggap masih ada beberapa faktor risiko penyakit ini, seperti infeksi virus, bakteri Leptospira, dan multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) atau sindrom peradangan multisistem pasca Covid-19.
 


Sumber Berita / Artikel Asli : CNN Indonesia

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad


Below Post Ad