KISAH Bung Karno yang Berwasiat Agar Ketika Wafat Dibungkus dengan Bendera Muhammadiyah


Hari ini, Sabtu (19/11/2022), rangkaian acara Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah resmi digelar dan bakal dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

 

Sebagai organisasi masyarakat yang umurnya lebih tua dari Republik Indonesia, Muhammadiyah ternyata punya kisah tersendiri dengan bapak proklamator Indonesia, Ir Soekarno atau Bung Karno. 

 

Bagi Bung Karno, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah sosok revolusioner dan layak dicontoh.

 

Sejarah mencatat kedekatan Bung Karno dan Muhammadiyah. Bapak Republik itu pun berwasiat agar ketika wafat, ia dimakamkan secara Muhammadiyah.

 

Bung Karno mempersunting Fatmawati, seorang kader Aisyiyah, gerakan perempuan Muhammadiyah. Fatmawati kelak menjadi ibu negara dan tercatat sebagai penjahit sang saka merah putih. 

 

Dalam laporan interaktif Kompas.id bertajuk Mereka Lahir dari Muhammadiyah yang menukil makalah Ketua Muhammadiyah sekaligus mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas pada 2015 lalu di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Bung Karno disebut ingin bendera Muhammadiyah melekat pada dirinya ketika wafat.

 

Pada Muktamar Muhammadiyah tahun 1962, Bung Karno menyatakan, ia ingin dikafani secara Muhammadiyah ketika nanti wafat.

 

“Bungkuslah mayat saya dengan bendera Muhammadiyah,” kata Bung Karno, dikutip dari makalah Busyro Muqoddas.

 

Jadi Kader Muhammadiyah sejak Muda  

 

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haeder Nashir mengisahkan tentang Bung Karno dan kekagumannya dengan Muhammadiyah. 

 

Menurut Haedar, Bung Karno tertarik dengan Muhammadiyah sedari kecil. Ia jadi kader sejak tahun 1930 dan pernah jadi pengurus di Majelis Pendidikan dan Menengah di Bengkulu.

 

Beberapa tahun sebelum diasingkan ke Bengkulu, menurut Prof. Haedar, Soekarno sudah jadi kader Muhammadiyah.

 

“Sejak menimba ilmu dan mengajar di rumah HOS Cokroaminoto, Bung Karno tertarik pada pikiran-pikiran Kyai Dahlan yang menghadirkan kemajuan. Setelah itu, Bung Karno resmi menjadi anggota Muhammadiyah,” tuturnya. 

 

Ketika dalam pengasingan di Bengkulu tahun 1938, Bung Karno kian getol mempelajari Muhammadiyah dan gerakan Islam progresif yang dibawa organisasi Islam yang berdiri sejak tahun 1918 itu.

 

Jadi Guru Muhammadiyah

 

Ramadhan KH, penulis biografi Inggit Garnasih istri Bung Karno, dalam buku Kuantar Kau ke Gerbang (Mizan, 2014: Hal.319) menuliskan kisah Soekarno menjadi guru saat diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

 

Ramadhan menceritakan ketika Inggit dan Bung Karno kedatangan seorang tamu dari Muhammadiyah di Ende. Tamu itu bernama Hasan Din.

 

“Kami tahu Bung Karno selama di Ende telah mengadakan hubungan erat dengan Persatuan Islam di Bandung dan kami pun mendengar bahwa Bung Karno sepaham dengan Ahmad Hassan, guru yang cerdas itu. Apakah Bung Bersedia pula membantu kami sebagai guru?” kata Hasan Din, dikutip Ramadhan KH pada halaman 368.

 

Di Ende, saat itu, terdapat beberapa sekolah, termasuk sekolah berbasis Muhammadiyah. 

 

“Saya anggap permintaan ini sebagai rahmat,“ jawab Bung Karno.

 

Bung Karno pun akhirnya menjadi guru Muhammadiyah di pengasingannya.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad


Below Post Ad