NU Dikira Mengemis Proyek oleh Pemerintah Amerika, Gus Yahya Marah


 Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf pernah marah gara-gara organisasi itu dikira mengemis proyek oleh Pemerintah Amerika Serikat. Ia menyatakan kerja sama dengan NU harus setara dan bermartabat.


Kisah kemarahan ini diungkapkan Gus Yahya, saat bertemu dengan kurang lebih seribu pengurus anak cabang dan ranting NU Cabang Jember dan Kencong, di Aula PB Sudirman, Kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (10/1/2023).


“Tahun 2013, saya pernah datang ke kantor Departemen Luar Negeri Amerika. Datang-datang saya ditawari proyek. Saya ini saking malunya sampai ngamuk. ‘Saya datang ke sini bukan karena proyek. Itu kan agenda anda. Jalankan sendiri, kenapa nyuruh NU,’ saya bilang,” kata Yahya disambut tepuk tangan hadirin.


Saat itu ada tawaran proyek untuk NU senilai tiga juta dollar Amerika Serikat setiap tahun. “Tidak sedikit. Tapi malu, Pak,” kata Yahya.


Yahya mengakui bahwa NU lekat dengan citra pencari sumbangan. Itulah yang membuatnya ingin NU mandiri melalui model kerja sama bermartabat dengan pihak lain.


“Kita bukannya minta sumbangan. Tapi membuat agenda bersama yang sama untungnya. Kita punya modal, sana punya modal. Kita punya modal jaringan dan warga yang luas, orang lain punya modal uang. Mari kita kerjasamakan secara bermartabat. Masing-masing pihak mendapatkan untung yang layak berdasarkan nilai sahamnya,” katanya.


Yahya mencontohkan Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama (BUMNU). Jember menjadi lokasi BUMNU percontohan dengan nilai investasi Rp12,5-15 miliar. “Tidak usah ngowoh (ternganga), karena itu masih terlalu murah buat NU Jember. Ini kan hanya untuk satu kerja kecil saja,” katanya.


“BUMNU ini kerja sama beberapa pihak. Tapi kita bukan minta. Kita bagi hasil. Kalau Erick Thohir gak jadi (presiden) ya nggak masalah. Urusannya bukan dengan Erick Thohir,” kata Yahya.


“Urusannya dengan badan-badan usaha yang jelas, dengan entitas bisnis yang jelas, dengan akad yang jelas. Dengan kontrak-kontrak yang jelas. Ini namanya kerja sama bermartabat. Kita ini bukannya ngemis,” kata Yahya keras, disambut tepuk tangan meriah hadirin.


“Setelah ini kita akan ada banyak kegiatan, karena kemarin kita sudah meluncurkan Gerakan Keluarga Maslahat. Ini sedang kita bangun sistemnya, sehingga nanti jadi kerjaan sampai ke ranting NU. Ini pekerjaan tidak ternilai harganya, karena semuanya bisa kita serap dalam gerakan ini,” kata Yahya.


Yahya ingin pola pikir warga NU diubah dan mulai menggerakkan semua potensi yang ada. “Kita bukan mencari sumbangan, kita bukan mencari belas kasihan orang. Kita mau bekerja sama,” katanya.


NU adalah organisasi yang kuat. “Dan kalau orang tahu kekuatan kita, orang tahu harga kita. Sampeyan tahu nggak acara R20 di Bali pada 2022. Itu saya bekerja sama dengan Rabithah Alam Islami. Kerja sama yang hanya berlangsung tiga bulan mulai dari September, Oktober, sampai November. Kita yang melaksanakan, kita yang mengatur seluruhnya. Kita yang mengurus dengan pemerintah Indonesia dan sebagainya,” kata Yahya.


Saat itu, menurut Yahya, Rabithah Alam Islami setuju mengucurkan dana 3,5 juta dolar Amerika Serikar untuk kegiatan tersebut. “Itu saja masih saya bilang: ini masih kurang, karena kita butuh lebih. Saya bilang kita butuh 7,5 juta dolar untuk program lima tahun. Mereka cuma mau 3,5 juta dolar. Kurangnya saya cari sendiri, saya bilang. Itu bermartabat. Kita tidak mengemis. Malah sana yang menawari. Kita bekerja sama dengan syarat-syarat kita. Kita yang menentukan, bukan pihak lain,” katanya.


Yahya ingin pola kerja sama ini dikembangkan. “Jangan merasa NU ini murah. NU ini mahal sekali,” katanya. [wir/beq]


Sumber Berita / Artikel Asli : Beritajatim

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad