Kata Erick Thohir: Banyak Negara Tak Ingin Indonesia Cepat Kaya!




 Menteri BUMN Erick Thohir menilai banyak negara tidak menyukai perekonomian Indonesia yang tumbuh pesat bahkan di tengah pandemi COVID-19.


Terutama terkait dengan kebijakan hilirisasi yang digenjot oleh Presiden Jokowi.


Erick menuturkan, ketika terjadi lonjakan harga komoditas atau commodity boom, Indonesia ketiban keuntungan besar dengan mengandalkan ekspor bahan mentah. Namun kondisi ini sudah berlalu.


"Jadi value added-nya tidak diciptakan di Indonesia, akhirnya pertumbuhan ekonomi dan pembukaan lapangan pekerjaan ada di negara lain, boom sumber daya alam sudah lewat akhirnya langsung kita juga terkena efek," ujarnya saat rilis Lembaga Survei Indonesia, Minggu (22/1).


Menurut Erick, hanya komoditas kelapa sawit yang masih bertahan, hal ini lantaran industri ini sudah memiliki turunan atau hilirisasi mencapai 80 produk.


Kondisi ini yang membuat Jokowi menggenjot industri hilirisasi.


Meski demikian, dia tidak menampik banyak tantangan yang harus dihadapi Indonesia saat menerapkan kebijakan hilirisasi, terutama dengan larangan ekspor bahan mentah yang digugat ke World Trade Organization (WTO).


Selain gugatan ke persidangan WTO, dia merasa diskriminasi juga dilakukan Uni Eropa dengan membatasi ekspor minyak sawit atau crude palm oil (CPO) Indonesia masuk ke sana melalui kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II.


"Jadi market kita harus dibuka, tetapi market mereka harus ditutup dengan alasan-alasan policy yang tentu disusupi, ini dinamika yang terjadi, kita lihat data ekonomi mereka yang menuju resesi," lanjut Erick.


Di tengah ancaman resesi global, Erick menuturkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia relatif stabil di antara negara G20.


Selain itu, neraca perdagangan Indonesia masih surplus bahkan meningkat hingga USD 51 miliar per November 2022.


"Ini yang ditakutkan oleh negara-negara pesaing kita, karena sampai 2045 kita direncanakan mungkin masuk top 5 ekonomi besar dunia, mereka sudah membaca data ini makanya mereka ingin memperlambat, istilahnya jangan cepat kaya lah Indonesia!" tegas Erick.


Erick melanjutkan, selain kelapa sawit dan komoditas tambang, hilirisasi juga digenjot untuk komoditas gula.


Pemerintah mencanangkan swasembada gula di tahun 2030 untuk kemudian diolah kembali untuk produk lain seperti etanol.


"Kita lihat Indonesia perfect kondisinya, kita punya nikel, sawit, gula menjadi etanol, artinya ketika kita terus menjadi salah satu negara pengimpor BBM sejak tahun 1993, kondisi ini harus kita siasati dengan kekuatan policy negara kita," pungkas dia.


Sumber Berita / Artikel Asli : kumparan

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad