Sepak Terjang Sunny, Perantara Ahok dan Pengusaha

441

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengeluarkan pencegahan terhadap Sunny Tanuwidjaja pada 6 April 2016 lalu. Ia pun hari ini menampakkan dirinya di hadapan awak media untuk memberi pernyataan.

Pemberitaan soal Sunny sepekan terakhir ini menjadi topik hangat di Okezone dan memiliki level pembaca cukup tinggi.

Dalam keterangannya, Sunny yang disebut-sebut sebagai staf khusus Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini akhirnya mengaku menjadi perantara Ahok dengan pihak pengusaha.

“Soal penghubung mereka (pengusaha) dengan Gubernur, iya. Karena mereka ingin kasih masukan, sungkan dengan Pak Ahok. Enggak tahu timing-nya kapan yang tepat, kadang-kadang via saya,” kata Sunny usai bertemu Ahok di Kantor Balai Kota DKI Jakarta, Senin (11/4/2016).

Ia menjelaskan, dalam kaitannya dengan pembahasan dua raperda terkait reklamasi, ia memang menjadi perantara pihak Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) DKI Jakarta dengan paguyuban pengembang reklamasi.

Menurutnya, dalam pembahasan raperda tersebut, banyak terjadi silang pendapat sehingga terkadang ia menjadi perantara.

“Konsultasi dengan paguyuban. Kan selalu ada perbedaan pandangan. Mereka juga ingin menyampaikan perbedaan pandangan dari sisi mereka itu seperti apa pandangannya. Kadang langsung ke Pak Gub (Gubernur), kadang langsung ke saya. Interaksinya dari situ sebenarnya,” beber Sunny.

Sunny juga membenarkan bahwa dirinya menjadi perantara pengembang reklamasi dengan Ketua Komisi D DPRD DKI Mohamad Sanusi. Perantara ini terkait dengan pembahasan dua Raperda terkait reklamasi yang mandek di Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD DKI.

Mengenai komunikasinya dengan Sanusi, Sunny menjelaskan ada pembahasan seputar tambahan kontribusi sebesar 15 persen yang diajukan Gubernur Ahok. Menurutnya, setelah diminta berkomunikasi dengan Sanusi, ia kemudian ditanya mengenai sikap Ahok terhadap nilai tambahan kontribusi.

“Pak Sanusi dan saya kontak, dia tanya gimana posisinya Pak Gubernur. Nah, sementara Pak Gubernur saat itu ada dalam posisi ‘ya terserah lah kalau dia maungerjain kita, mau bikin deadlock, mau nyoret terserah ya, kalau nanti dia masukin ya bagus, kalau dia lepas ya nanti kita taruh di Pergub’,” terangnya.

Sebelumnya, kontak antara Sunny dengan Sanusi atas dasar permintaan dari pengusaha. “Kalau kontak betul, seperti yang Pak Sanusi sebut. Memang saya kontak dia. Kenapa? Karena memang saat itu, draf dari Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan) itu sudah selesai. Kemudian, diajukan ke DPRD. Tapi kayaknya di situ (DPRD) lama tidak bergerak. Nah, dibahas,” jelas dia.

Ia melanjutkan, lantaran tak kunjung ada kabar soal kelanjutan pembahasan Raperda, pihak pengusaha meminta dirinya untuk membuka komunikasi dengan Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD DKI.

Sosok Sanusi dipilih sebagai perantara karena Sunny menilai dialah yang paling paham mengenai reklamasi. “Kenapa Sanusi? Karena kita tahu, Sanusi paling tahu soal beginian. Yang lain kan enggak ngerti,” papar Sunny.

Sumber : OKEZONE

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY