Penguasa Arab Geram dengan Tingkah Politik Dua Kaki Jokowi.

718
Bila negara-negara Arab kaya minyak marah kepada Indonesia, ini karena Jokowi dianggap berpihak ke Amerika Serikat untuk membangkrutkan dirinya.
Sebuah tugas baru dibebankan kepada Menteri ESDM Sudirman Said, yaitu mengawal investasi Timur Tengah di Indonesia. Tugas ini berat karena para investor dari kawasan tersebut sedang geram kepada Indonesia, yang dianggap bergabung dengan Amerika Serikat untuk membangkrutkan industri Migas mereka.
Di bawah pimpinan Arab Saudi, mereka sedang berperang melawan Amerika Serikat di arena Migas. Perang hidup-mati ini dipicu oleh revolusi teknologi dan investasi besar-besaran Amerika Serikat untuk menambang shale gas yang harganya jauh lebih murah ketimbang gas alam konvensional. Bagi Arab Saudi dkk, industri baru tersebut harus dilawan untuk mencegah kebangkrutan massal industri Migas mereka.
Pernyataan perang tersebut dinyatakan November lalu dalam sidang OPEC. Yakni dengan menolak menurunkan produksi Migas meski harga telah ambruk sampai lebih dari 50%. Sesuai arahan Arab Saudi, tujuan perang tersebut adalah untuk membangkrutkan produsen shale gas, dan mencegah gas ini masuk ke pasar internasional.
Nah, yang membuat Arab Saudi dkk jengkel kepada Indonesia adalah adalah karena merasa dikibuli. Bayangkan, pada September lalu Indonesia resmi bergabung dengan OPEC. Lalu, bulan berikutnya, dalam kunjungan ke Washington, Jokowi teken kontrak pembelian shale gas senilai US$ 13 miliar.
Kontrak yang mengejutkan para anggota OPEC itu terjadi ketika Arab Saudi dkk sedang kerja keras untuk memotong anggaran belanja akibat rendahnya harga minyak. Sementara itu, masih banyak indikasi yang bisa membuat harga minyak merosot lebih jauh bahkan sampai ke US$ 20 per barrel. Padahal, harga seperti sekarang saja telah memaksa negara super kaya seperti Arab Saudi menerbitkan surat utang senilai US$10 miliar.
Salah satu penyebab utama dari situasi tersebut adalah kesalahan dalam biaya produksi shale gas. Sampai tahun lalu, kebanyakan analis percaya bahwa biaya produksi shale gas adalah sekitar US$ 60 per barrel. Tapi kini di sejumlah wilayah Amerika biaya tersebut telah bisa ditekan sampai sekitar US$ 30.
Celakanya, menurut analisis IMF, bila harga minyak tetap sekitar US$ 50 per barrel, hampir semua negara kaya minyak di Timur Tengah akan kehabisan uang. Arab Saudi, Oman, dan Bahrain termasuk yang bernasib nahas. Tahun ini saja sekitar US$ 360 miliar, menurut IMF, akan menguap dari kawasan tersebut akibat rendahnya harga minyak.
IMF bahkan memperkirakan, meski berstatus sebagai produsen minyak terbesar di dunia, harga keekonomian minyak Arab Saudi adalah US$ 106 per barrel agar defisit anggarannya tak membengkak. Berdasarkan harga minyak sekarang, IMF berasumsi bahwa defisit deraca berjalan Arab Saudi akan membengkak sampai 20% dari PDB-nya tahun ini.
Analisis IMF bertolak dari kenyataan bahwa hanya Qatar dan Kuwait yang biaya produksi minyaknya berada di sekitar US$ 50 per barrel. Lainnya di atas US$70. Bahrain bahkan mencapai US$ 107.
Bila Arab Saudi paling menderita, ini karena kerajaan ini menghabiskan sangat banyak dana untuk belanja peralatan tempur. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk membiayai perang melawan Iran di Timur Tengah.
Lihat saja cadangan devisa Arab Saudi. Bila pada Agustus tahunlalau masih mencapai US$ 737 miliar, Mei lalu turun menjadi $672 in May. Sementara itu, bila harga minyak tetap lesu, cadangan devisa tersebut bakal melorot sekitar US$ 12 miliar per bulan.[ir]

comments

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY