Media sosial buat jualan : Efektifnya gunakan Facebook dan Instagram buat berdagang

598

Jual beli produk secara online sudah semakin akrab di kalangan masyarakat. Perkembangan teknologi yang semakin massif di era serba digital memudahkan masyarakat memasarkan lapak jualannya hingga menembus ruang dan waktu.

Kini, media sosial seperti Facebook, Instagram, atau twitter tak ubahnya seperti pasar, tempat bertemunya penjual dan pembeli. Selalu saja ada yang menawarkan barang dagangannya, dan beberapa direspons oleh konsumen alias pembeli. Persis seperti di pasar. Bedanya, pasar kali ini di dunia maya di mana proses tawar menawar bisa dilakukan tanpa harus bertemu langsung.

Pelaku usaha, khususnya sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), tentunya juga terbantu hadirnya teknologi. Persoalan keterbatasan dana untuk promosi atau membuka toko secara fisik langsung menemukan solusi dengan beralih menjual produknya di dunia maya.

Pengamat Marketing Yuswohady mengakui, kemudahan dalam berbisnis online membuat para pelaku usaha Indonesia makin kreatif. Ini terlihat dari animo pasar jual beli di media sosial dan lapak jual beli online terus menggeliat dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

“Lima tahun terakhir pedagang online itu gede sekali, terutama UMKM, secara sewa tokonya tidak terjangkau lagi,” kata Yuswohady kepada merdeka.com, Rabu (23/9) kemarin.

Penjualan barang dagangan melalui media sosial diakui cukup efektif. Pertama dari sisi biaya. Sebagai perbandingan, bila menyewa sebuah toko bisa mencapai puluhan juta rupiah, jika membuka lapak di media sosial sama sekali tak membutuhkan biaya. Jika ingin lebih menarik banyak orang, biasanya pelaku usaha cuma mengurus server (hosting) Rp 1 juta per tahun atau sesuai besar kecilnya server.

Meski peluangnya besar, ada beberapa masalah yang harus diperhatikan saat menjual barang-barangnya melalui media sosial. Mulai dari pembayaran, distribusi barang, hingga kualitas barang. Masalah-masalah itu masih bisa diatasi.

“Ini yang jadi agak masalah sendiri. Tapi dengan persaingan bisa terseleksi sendiri nantinya,” ujarnya.

Menurutnya, sudah banyak pelaku usaha merasakan dampak positif menggelar lapak dagangannya dengan memanfaatkan Facebook atau Instagram. Pundi-pundi yang dimilikinya justru makin meningkat. Seperti dirasakan pemilik Indo Cover Ban, Ferdian Pramudya Susanto.

Dia memproduksi sekaligus menjual produk berupa penutup atau cover ban. Bisnis ini sudah dilakoni sejak awal 2014. Kini pangsa pasarnya sudah menembus internasional. Ferdian mengakui efektifnya media sosial untuk mempromosikan barang dagangannya.

“Sangat efektif sih (jualan lewat online), karena kita memang jualan utamanya melalui online,” ungkap Ferdian.

Pemuda 22 tahun sedikit membocorkan kesuksesannya menjalani usaha secara online. Pegangan pentingnya, yakni percaya diri alias pede dalam menjalani bisnis. Sebab, dalam prosesnya bakal menemukan segala perbaikan untuk lebih maju.

Reporter : Angga Yudha Pratomo

Sumber : Merdeka.com

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY