‘Iron Man’ Dari Bali Dijuluki ‘Iron Man’, Tawan Bikin Lengan Robot Terinspirasi dari Astro Boy

1200

Karangasem – Wayan Sumardana, yang akrab disapa Tawan kini populer dijuluki sebagai ‘iron man’ dari Bali. Sejak kelumpuhan menyerang lengan kirinya 6 bulan lalu, Tawan mulai otak atik barang bekas dan rongsokan menjadi alat penggerak lengan yang kini membuatnya nyaris seperti robot. Dari mana inspirasinya?

Julukan ‘Iron Man’ untuk Tawan muncul dari media sosial. Situs 9GAG, menyebut Tawan adalah bapak beranak 3 dengan kondisi tidak mampu. Enam bulan lalu, tangan kirinya tiba-tiba lumpuh dan dokter mendiagnosanya menderita stroke. Berkat bekal pendidikan SMK-nya di bidang rekayasa mekanik, dia menciptakan lengan robot yang dikendalikan oleh otak. Jadi, dia mesti fokus sekali bila ingin menggerakkan lengan robot yang dipasang di tangan kirinya.

Dalam meme di 9Gag itu disebutkan Tawan membuat semuanya dari barang bekas, mulai dari suku cadang sepeda, sepeda motor, komputer dan apapun yang dia temui. Bahkan, kini lengan kirinya jadi lebih kuat dari lengan kanannya.

detikcom kemudian menemui Tawan dan menanyakan soal inspirasinya membuat lengan robot. Sambil tertawa terbahak bahak, Tawan dengan polos menyebutkan sejak berumur 4 tahun ia terinspirasi dari tokoh animasi bernama “Astro Boy”. Menginjak usia dewasa, tak disangka kekaguman Tawan pada Astro Boy malah menjadi inspirasi utama dirinya menjadi manusia robot. Kondisi fisik mendesaknya untuk bergerak memaksa diri menghadirkan wujud tokoh animasi Astro Boy dalam dirinya.

“Dari umur 4 tahun saya sudah ngefans sekali sama Astro Boy. Nggak nyangka saking senengnya sama Astro Boy malah jadi inspirasi saya untuk bikin tangan robot ini,” ujar Tawan ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (21/1/2016).

Foto: Putri Akmal

Komponen alat buatan Tawan mulai dari besi penopang, tabung hidrolis, hingga beberapa kabel terlihat bekas. Tawan merancang, merakit dan menyambung sendiri seluruh item tersebut. Tak hanya itu, dia juga menggunakan CPU komputer, dinamo, tuning potensio, sensor ultasonik, sensor infra merah dan sensor jumlah putaran dinamo.

“Alat ini saya ciptakan untuk aktivitas saya. Ada sebagian yang saya buat dan sebagian saya beli. Dan saya rangkai sendiri,” ucapnya.

Satu komponen kunci, yakni sensor EEG (Electro Encephalo Graphi) dibelinya online dari Amerika Serikat (AS) senilai Rp 4,7 juta. Ia menjelaskan, alat ini berfungsi melalui sensor otak yang dipasang di kepala yang mengendalikan arah gerak ke tangan kirinya melalui alat yang dipasang di punggung dan tangan kirinya.

Untuk memuluskan gerak alat tersebut, Tawan memasang satu unit CPU komputer pun dipasang di bagian belakang tubuhnya. Fungsinya sebagai penggerak dari sensor di kepala. Tuning potensio merupakan rangkaian pengolah input dan output mikro kontroler.

“Infra merah, sensor ultrasonik, dan sensor jumlah putaran dinamo ini adalah rangkaian penguat power. Ada pula EEG. Semuanya tersambung ke dinamo agar dapat bekerja secara maksimal,” jelasnya.

“Lalu ada drone, elektroda dan lainnya. Posisinya ditempel di kepala sebagai penangkap sinyal, alpa, delta, beta dan teta,” tambahnya.

Hanya saja, alat tersebut membuatnya harus mengeluarkan energi ekstra. Pasalnya, Tawan harus benar-benar fokus dan berkonsentrasi. Jika tidak, alat tersebut akan bekerja secara tak normal.

Untuk menggerakkan lengan robotnya itu, Tawan membutuhkan listrik 500 voltase. Ini didapat dari baterai litiumoin yang dipasangnya. Agar dapat terus digunakan, alat ini harus terus diisi daya baterainya. Memakan waktu cukup lama untuk mengisi ulangnya. Biasanya, jika tak digunakan Tawan menyempatkan diri untuk mengisi ulang dayanya.

“Kalau orang pegang ini ya kena setrum. Tapi kalau saya sendiri yang memakai alat ini tidak (tersetrum). Biasanya jam 24.00 malam saya charge sampai jam 7.00 pagi. Kalau kekuatannya tergantung pemakaian. Kalau angkat yang berat-berat bisa cepat habis. Kalau hanya mengelas bisa tahan lebih lama,” imbuhnya.

(mad/mad)

Putri Akmal – detikNews

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY