Gunakan Rumus Dakwah 4SK, Dai Ini Berjuang Islamkan Penduduk Mentawai

1439
Banyak kisah menarik dari perjuangan dakwah seorang dai di daerah terpencil, salah satunya perjalanan dakwah yang dilakukan Ustaz Iman Sulaiman di Kepulauan Mentawai.
Saat tim Suara Islam mengunjungi pulau Siberut di Kepulauan Mentawai awal Januari 2016 lalu, alhamdulillah bisa bertemu dengan Ustaz Iman dengan keluarga dan teman-teman seperjuangannya.
Perjalanan dakwah Ustaz Iman di Mentawai dimulai sejak 2009 lalu. Pada awalnya ia bergabung dalam program Asian Moslem Charity Foundation (AMCF), setelah menyelesaikan pendidikan dakwah, ia ikut dalam pengiriman dai ke daerah pedalaman di seluruh Indonesia, ketika itu ia mendapatkan tugas di Kepulauan Mentawai.
“Saat itu tidak terbayang bagaimana kondisi daerah Mentawai, saya kira enak sudah ada lampu, sinyal, ada minimarket, tetapi setelah sampai, subhanallah ternyata sinyal bahkan listrik saja itu tidak ada,” ujarnya.
Pertama ia ditugaskan di Siberut Selatan dekat lautan lepas menuju Samudra Hindia nama daerahnya Sagulube, lokasinya paling ujung pulau Mentawai.
“Saya dapat tugas disana, tetapi ketika baru sampai saya diserang penyakit cikungunya selama 3 minggu. Disana dokter tidak ada, yang ada pengobatan tradisional. Saat itu penyakit saya tidak sembuh, tidak lama kemudian ada kapal barang yang datang akhirnya saya dibawa kapal tersebut untuk mencari pengobatan,” cerita Ustaz Iman.
Naik kapal barang akhirnya sampai di Telelei, ia dirawat disana dan akhirnya disuruh menetap selama 1 tahun. Menurutnya, pada awal perjalanan dakwahnya ia berpindah-pindah tempat di sekitar Kepulauan Mentawai.
Pria asal Garut, Jawa Barat itu mengaku sejak kecil sudah bergelut dalam bidang keagamaan, sehingga sudah ada niat yang kuat untuk terjun berdakwah. Dan yang tak kalah penting, keluarganya pun turut mendukung aktivitas dakwahnya.
“Dan motivasi saya karena di Mentawai itu minoritas Islam, saya ingin berdakwah seperti Nabi Muhammad Saw mengajak orang kafir masuk Islam, dan peluang dakwah di Mentawai ini sangat besar,” katanya.
Banyak suka duka yang dialami Ustaz Iman, salah satunya tantangan melewati berbagai medan yang berat. “Medan dakwah di jalur laut itu sulit karena terkadang ombaknya besar-besar, kalau di kota itukan kalau dakwah pakai mobil, motor, jalannya bagus, bahkan ada yang dijemput,” ungkapnya.
Kalau naik kapali tu biayanya cukup besar, kalau lewat jalan itu harus jatuh bangun, kita harus melewati jalan yang lebarnya cuma satu meter dan dilapisi papan satu helai karena jalannya rusak dan banyak rawa di tengah hutan. Kalau kita jatuh terperosok kita harus menunggu bantuan yang lewat, dan itu terkadang lumayan lama. Itu suka dukanya lewat medan darat, perjalanan berjam-jam bahkan sampai seharian, jelas Ustaz Iman.
Selain medan yang sulit ditempuh, tantangan dakwah di masyarakat Mentawai juga tak kalah beratnya. “Pernah saat pertama kali mengumandangkan azan, saat itu dianggap mengganggu masyarakat setempat, bahkan saya mau diserang. Saya dibilang “sangitu” artinya hantu yang teriak-teriak, pagi-pagi buta sudah mengganggu banyak orang,” cerita Ustaz Iman.
Namun seiring berjalan waktu, dengan pendekatan yang baik terutama kepada tokoh masyarakat lama-lama dakwah Islam bisa diterima. “Meskipun kita sedikit tetapi jangan takut, kalau orang Islam ada apa-apa insya Allah akan ada yang menolong, bahkan siap mengorbankan jiwa raganya, jadi meski sedikit dakwah jalan terus,” ucapnya.
Ia menjelaskan, watak masyarakat di Mentawai sebenarnya tidak memiliki sifat keras hati, sehingga dakwah harus dengan cara-cara yang simpatik. “Saya sendiri menerapkan cara S4K, kebetulan saya dari sunda saya senang mencontoh cara Aa Gym berdakwah yaitu S4K artinya Sopan, Santun, Sapa, Senyum dan K nya itu Klakson. Maksudnya kalau kita bawa motor kita sapa masyarakat pakai klakson, dengan begitu mereka merasa sangat dihargai dan dihormati,” ujarnya.
“Alhamdulillah, selama saya disini belum pernah dakwah dengan harus lewat mempelajari bibel dulu misalnya, itukan dakwah tingkat tinggi, tapi bagi masyarakat awam itu lewat akhlak, dan sering berinteraksi. Contohnya ketika mereka sedang ngumpul di kedai, kita ikut nimbrung ngobrol-ngobrol. Nah karena mereka melihat akhlak kita yang baik akhirnya mereka simpati setelah itu baru kita dakwahi,” tambahnya.
Setelah mereka masuk Islam, kita juga harus sabar membinanya, ketika mereka baru belajar Islam itu yang membuat kita semangat mengajarnya. bagaimana mengajari mereka cara belajar shalat, baca alquran dan seterusnya.
Ustaz Iman bertekad, bahwa dakwah itu sampai akhir hayat harus dilaksanakan, dan ladang dakwah di Mentawai yang mayoritas non muslim ini masih sangat luas peluangnya.
Meski demikian, ia mengakui perjuangan dakwah di Mentawai masih memerlukan perhatian yang lebih dari kaum muslimin di mana pun berada. Diantaranya kesejahteraan para dai yang perlu ditingkatkan, sarana ibadah yang perlu ditambah, tempat pendidikan khusus para muslim juga perlu diadakan, serta keperluan para mualaf yang juga harus diperhatikan.
“Kita berharap jika kesejahteran para dai bisa ditingkatkan. Dan para mualaf juga perlu dibantu, karena para misionaris tidak akan tinggal diam, mereka itu ekonominya kuat, bantuan-bantuan banyak diberikan. Bagi-bagi makanan, uang, bahkan tawaran pendidikan gratis hingga kuliah,”
“Jika kita bisa membantu para mualaf, insya Allah bisa membantu mereka agar tetap istiqomah di jalan Islam,” tandas Ustaz Iman.
Sumber : Suara Islam

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY