Ditinggal Obama, Jokowi Batal Pidato, Harga Diri Bangsa Di Titik Nadir

485

Insiden batalnya pidato Presiden Joko Widodo di Forum Mission Innovation COP21, Paris, Perancis, Minggu (30/11), seharusnya menjadi bahan evaluasi penting.

Pemberitaan seputar batalnya pidato Jokowi itu sempat simpang siur di dalam negeri. Ada yang mengatakan bahwa penyebabnya adalah Presiden AS Barack Obama telat datang. Obama juga disebut-sebut sebagai biang keladi bubarnya acara karena dia lebih dulu meninggalkan lokasi acara setelah berpidato, padahal masih ada sekitar 10 kepala negara lain yang belum mendapat kesempatan termasuk Jokowi, PM Inggris dan PM Jepang.

Kepala Staf Presiden, Teten Masduki, sendiri sudah meluruskan pemberitaan itu. Menurutnya, ketika Jokowi tiba di Forum Mission Innovation, di podium sedang berlangsung pidato Bill Gates, lalu PM India Narendra Modi dan Presiden AS Barack Obama. Setelah Presiden Obama selesai pidato, PM Modi kemudian meninggalkan acara disusul oleh Presiden Obama dan peserta yang hadir juga akhirnya berdiri dan pergi keluar. Padahal ada belasan Kepala Negara/ Kepala Pemerintahan dari 40 yang akan bicara termasuk Presiden Jokowi.

“Akhirnya semua kepala negara memutuskan untuk tidak bicara karena ketidaktertiban pengaturan acara ini,” terang Teten.

Di mata tokoh politik senior, Rachmawati Soekarnoputri, insiden itu bagaikan direkayasa. Tidak mungkin pertemuan sekelas KTT Paris itu dilakukan secara amatiran.

“Jokowi batal pidato, ditinggal Obama dan sejumlah delegasi adalah insiden kebangsaan yang buruk dan memalukan. Dapoat dibaca, dignity kebangsaan kita sudah jatuh di titik nadir oleh internasional, baik secara politik, ekonomi dan martabat bangsa,” kata Rachmawati.

Masih menurutnya, Jokowi sudah tak dianggap lagi karena Indonesia mendapat stigma bangsa bangsa kuli.

“Ya, kata orang jadi kuli asing, aseng, asong. Maka berkaca dirilah. Kepala negara adalah etalase bangsa, orang akan menilai besar atau kerdilnya seorang pemimpin,” ujarnya. [ald]

Sumber : RMOL

comments

1 COMMENT

LEAVE A REPLY