Beberapa Hari Ini, Menjadi Hari Bersejarah Bagi Bangsa Kita, Tanpa Banyak Kita Sadari.

135

Beberapa hari ini, belasan atau puluhan anak bangsa yang secara istimewa berhasil memenangkan pemilihan kepala daerah langsung 2x berturut-turut, mulai memasuki masa purna bakti mereka sebagai kepala daerah. Ya, mereka adalah “generasi” pertama pemimpin daerah yang karena kepatuhan pada demokrasi harus melepas kekuasaan eksekutif untuk kemudian tidak boleh lagi berkuasa di daerahnya, menyusul satu-satunya generasi pertama pemimpin level nasional, SBY, yang memenangi pemilihan langsung 2x berturut-turut dan kemudian melepas kekuasaan secara damai.

Negara-negara demokrasi maju, (percaya pada saya — meminjam istilah presiden Joko Widodo yang mengatakan ekonomi kita akan meroket bulan oktober—), ternganga melihat begitu cepatnya transformasi demokrasi Negara kita. Hanya dalam hitungan belasan tahun, power yang begitu sentralistik selama ratusan tahun (sejak era Kolonial) segera terdistribusi sampai ke tingkat kota/kabupaten secara damai. Ikut dalam lampiran distribusi: kepengelolaan anggaran yang otonom. Memang ada riak-riak dalam pilkada, tetapi sampai sejauh ini tidak pernah sampai membuat otonomi di daerah terhisap kembali ke pusat. Hanya dalam hitungan belasan tahun! Sangat luar biasa.

Para Bupati/Walikota yang memasuki masa pensiun ini adalah pahlawan-pahlawan kita semua. Pahlawan Demokrasi. Begitu banyak kewenangan Pusat yang terlimpah ke Daerah yang harus dipikul para kepala daerah ini, suka atau tidak suka. Ngurus kesehatan, pendidikan, pangan yang sebelumnya adalah tanggung jawab Pusat, menjadi sebagian dari sekian banyak tanggung jawab mereka. “Kewenangan” Pusat untuk korupsi, pun, terlempar ke mereka. Yah, semoga saja “kewenangan” itu tak sempat mereka gunakan selama menjabat.

Kini, mereka melangkah turun. Kembali menjadi rakyat biasa. Dan kita, daerah-daerah yang mendapat jadwal pilkada, akan kembali berpesta demokrasi. Kembali mendapat kesempatan untuk memilih siapa-siapa saja yang layak dan patut menjadi pemimpin kita di daerah, untuk melanjutkan mengurus daerah dalam kerangka demokrasi. Kita ber-exercise.

Dan kamu, ‘Ndro… jangan pake senjata untuk berbicara dengan rakyat. Sepedis apa pun kata-kata yang diekspresikan rakyat, kamu jangan sekali-kali suruh senjata yang menanggapi. Senjatamu itu rakyat yang belikan, ‘Ndro.

Penulis  : Canny Watae

CW – Onlineindo News

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY